
Strategi Sukses UMKM: Model Bisnis Berbasis Komunitas dan Konten Menarik Dibahas di LEK WES NGLUMPUK MBOIS ILAKES
MALANG – Sebagai bagian dari rangkaian Festival Ramadan Pegadaian, menghadirkan acara inspiratif bagi para pelaku UMKM dan industri kreatif melalui Lek Wes Nglumpuk Mbois Ilakes. Acara ini menghadirkan tiga pembicara yang membagikan strategi penting dalam membangun bisnis, mulai dari model bisnis berbasis komunitas, optimalisasi media sosial, hingga teknik voice over untuk menarik perhatian pelanggan.

Sesi pertama dibuka oleh Endah Noor Suryanti yang menjelaskan bagaimana UMKM bisa berkembang dengan model berbasis komunitas. Ia menekankan bahwa bisnis yang berkelanjutan harus memiliki nilai sosial, budaya, dan ekonomi yang kuat. Dengan konsep Golden Circle, UMKM dapat lebih fokus dalam membangun relasi dengan komunitas dan menciptakan produk yang memiliki nilai tambah, termasuk potensi untuk ekspor. “Bisnis berbasis komunitas tidak hanya bertahan lebih lama, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas bagi masyarakat,” ungkapnya.

Hari Santoso kemudian melanjutkan sesi dengan membahas pentingnya media sosial bagi UMKM. Menurutnya, 79% orang Indonesia menggunakan media sosial untuk mencari produk dan layanan, namun masih banyak UMKM yang belum memanfaatkannya secara maksimal. “Kesalahan yang sering terjadi adalah posting tidak konsisten, konten hanya berisi jualan, desain yang kurang menarik, serta kurangnya interaksi dengan audiens,” ujarnya. Ia pun membagikan beberapa tips agar UMKM bisa lebih efektif dalam memanfaatkan media sosial, seperti rutin mengunggah konten, menggunakan Call to Action (CTA), mengoptimalkan bio, dan memperbanyak konten video vertikal yang lebih engaging di platform seperti TikTok dan Instagram Reels. Selain itu, ia juga menyarankan pelaku UMKM untuk aktif di WhatsApp Story karena banyak pelanggan potensial yang menggunakannya setiap hari.
Sesi terakhir dibawakan oleh Willy Pramana, seorang voice over talent profesional yang telah bekerja sama dengan berbagai brand besar seperti Nestlé dan layanan kesehatan. Ia menjelaskan bahwa voice over bukan sekadar pemanis dalam konten, tetapi juga bisa menjadi elemen kunci dalam menarik perhatian audiens. “Orisinalitas adalah kunci. Suara dalam konten bukan cuma tambahan, tapi bisa menentukan seberapa besar audiens tertarik dengan produk yang ditawarkan,” katanya.

Sebagai bagian dari Festival Ramadan Pegadaian, acara ini menjadi wadah bagi pelaku UMKM untuk belajar dan berjejaring dengan komunitas kreatif. Dengan berbagai strategi yang telah dibagikan, diharapkan peserta dapat mengembangkan bisnis mereka agar semakin eksis di era digital. (Dar/Aur).